Archive for January, 2006

Behold!! The Nightmare!!

Friday, January 6th, 2006

Behold!! The Nightmare!!

Hari-hari belakangan ini sepertinya adalah mimpi buruk bagi kita semua. Bencana dimana-mana. Tanah longsor, banjir, ah, entah apalagi besok……

aku jadi ingat kisah-kisah di majalah Si Kuncung (majalah yang kurindukan, entah bagaimana nasibmu kini) dulu. Cerita-cerita tentang bencana banjir seringkali bersetting sebuah perkampungan dimana angin sepoi berhembus, dikitari persawahan yang terhampar indah.  Ya, di tahun-tahun yang lalu, banjir kebanyakan menimpa teman-teman kita yang berada di wilayah bawah. Banjir Kiriman kalo kata orang. Namun sekarang, wilayah atas pun sepertinya mulai terjamah. Seperti yang dialami teman-teman kita di Jember kemarin. Sekarang, banjir ternyata terjadi juga di daerah pegunungan, daerah yang semula tidak terbayangkan oleh kita akan mengalami bencana semacam itu.
Demikian juga tanah longsor (LS). Dulu, LS biasanya terjadi di daerah-daerah tertentu saja, yang memang sudah jadi "langganan" LS. Entah karena struktur tanah yang labil, atau karena sebab lainnya. Namun, kita lihat sekarang LS terjadi secara sporadis di berbagai tempat.

Segera, muncul dua pendapat tentang penyebab bencana ini. Masyarakat menilai penggundulan hutan sebagai biang keroknya, sedangkan birokrat menyatakan curah hujan yang sangat tinggi sebagai penyebabnya.
aku cenderung kurang setuju dengan alasan kedua. Kenapa? Karena alasan itu mempunyai dua arti, yaitu :
1. Tidak mengakui bahwa hutan yang ada saat ini sudah jauh berkurang dibanding  tahun-tahun lalu.
   Kurasa sudah bukan rahasia lagi kalau merajalelanya pembalakan liar di Indonesia terjadi karena dukungan oknum-oknum tertentu. Ada kesan untuk menutupi keterlibatan mereka? Entahlah. Semoga saja tidak…
2. Cenderung menyalahkan alam.
   Hujan adalah rahmat dari Allah untuk kita. Seandainya dia berubah menjadi bencana, rasanya tidak baik jika kita serta merta mencacinya. Marilah menoleh kepada diri kita masing-masing. aku yakin, sebenarnya kita semua tahu jawabannya, iya kan :)….?

Tak terbayangkan olehku (dan aku memang tidak mau membayangkannya) seandainya hal serupa menimpa wilayah kami. Semoga para korban diberi ketabahan dan kekuatan. Dan semoga hal ini bisa menjadi pelajaran bagi semua.

Maka, bersyukurlah kita yang saat ini masih bisa datang ke warnet, browsing, mungkin chatting, menatap monitor dengan tenang dan rileks, bahkan mungkin ada yang sambil ongkang-ongkang kaki plus ngopi sambil ketawa-ketawa sendiri. Bersyukurlah, bersyukurlah……

Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah.

== Love Our Forest ==

 

Tulisan Aneh

Wednesday, January 4th, 2006

Sebenerna aku ga enak mo nulis ini, tapi rasanya kok tergelitik pengen nulis komentar. Ya sudahlah, tulis aja…mawut yo luweh, sing penting hepi beibeh…..

Kemaren baca messagenya Rin, temen SMU dulu. Ngomentarin temen kita yg barusan nikah, kenapa yg nikah banyakan cewek mulu. Salah satunya, ada kata "kalo perempuan kan ga wajib kerja". Pas dibaca si masi oke2 aja. Tapi, pas nyampe rumah inget lagi kata itu. "Perempuan kan ga wajib kerja…."
Bener, idealnya si emang gitu. Ga wajib. Cuma kalo dipikir2 lagi, kayanya jadi bingung juga. Gimana ya, jaman sekarang, mau ga mau biaya hidup harus diperhitungkan…Kayanya kalo rumah tangga cuma mengandalkan 1 orang thok kok rasanya rapuh bgt (iya nggak si?). Masih oke kalo blom repot. Mau prihatin model flintstone pun oke! Tapi, kalo dah ada tanggungan, maka dimulailah masa2 kritis itu. "All hands on deck!!" Nutrisi buat manusia kecil kan mahal. Boro2 yg mengandung sgala macam enzim tetek-bengek yg (katanya) bisa bikin pinter, cepet gedhe, cepet tinggi (sayang ga ada yg bikin cepet kaya, apalagi cepet sholeh), dsb. Yg biasa2 aja udah susah dijangkau kok. Belum tar kalo si anak dah mulai sekolah. Tau ndiri, di negeri ini pendidikan mahal…dll-dll…

Di sisi lain, kalau yang kerja 2 orang, si bocah jadi terlantar. Bisa2 malah kurang dpt perhatian. Padahal kalo kata Kak Seto, Bu Tika Bisono, Pak Darmanto Djatman dkk (sori, untuk urusan ini dr. Boyke ga ikut2an, hehe..), peran orang tua (terutama ibu donk!!) sangat penting buat perkembangan si anak. Akibatnya, perkembangan mentalnya bisa jadi kurang bagus..

Piye jal? Ketoke mumet yo?

Yah, namanya aja masih membayangkan. Wong nikah aj blom pernah kok, blom mengalami ndiri. Tapi, kalo kata Eyang Kakung, jng sampe alasan2 itu bikin orang jadi takut nikah. Yakin aja lah kalo nikah itu bisa jadi pintu rejeki. Namanya aja pintu, pasti ada kuncinya kan?. Eyang kakung bilang, Kearifan dan pengertian dari kedua pihak kayanya adalah kunci yang paling pas…Satu lagi, biasanya pintu akan susah dibuka kalo dipaksa dan tergesa-gesa. So, just enjoy, and do it smoothly. Smooth Operator beibeh… 

Woihoihoi, nulis apa si ini. Udah2 brenti omong kosongnya! Sekali lagi, namanya juga bayangan, tul ga, hehe….