Archive for November, 2005

Nggak Karuan

Tuesday, November 29th, 2005

Dalam beberapa hari terakhir ini,ada satu peristiwa yang membuat aku tertarik, yaitu hari guru. Kenapa? Aksi-aksi para guru sekarang ini sangat "luar biasa". Betapa tidak? Dalam upacara peringatan hari guru (Manahan,Solo,26/11/05) yang dihadiri oleh Wakil Presiden dan juga perwakilan para guru se-ASEAN, mereka melakukan aksi demonstrasi di dalam stadion! Mereka (dalam hal ini diwakili oleh Prof. Winarno) juga "menyindir" pemerintah yang belum mampu mengakomodasi kepentingan dunia pendidikan melalui sebuah puisi yang cukup pedas, yang ujung-ujungnya kemudian membuat Jusuf Kalla tersinggung. Yang menarik adalah, kenapa si mereka melakukan itu? Sebuah ejekan dan aksi demonstrasi frontal dipertontonkan di hadapan Wakil Presiden yang saat itu sedang bersama perwakilan para guru se-ASEAN (yang notabene adalah tamu negara juga). Bukankah itu namanya mempermalukan Indonesia, sekaligus mempermalukan diri sendiri? Apakah sudah tidak ada lagi jalan lain? Tidak bisakah aspirasi tersebut disampaikan dengan cara yang lebih santun dan terhormat? Bagaimana kalau murid-murid sekolah dasar menanyakan kepada gurunya tentang hal ini? Pendidikan bukan semata-mata dilakukan melalui tatap muka di kelas, namun juga melalui teladan dan contoh di lapangan. Sesuai dengan agama yang kuanut, aku lebih percaya bahwa hati seorang pemimpin akan lebih mudah tergerak apabila menerima nasehat yang disampaikan dengan cara yang baik dan santun. Bukan dengan emosi semata…Para guru meminta agar kesejahteraan guru diperhatikan dan ditingkatkan. Ya, dalam hal ini aku setuju dengan mereka. Kebijakan pemerintah pada masa lalu yang tidak berpihak kepada dunia pendidikan membuat fasilitas dan nasib guru terabaikan. Padahal pendidikan adalah kunci penting bagi suatu bangsa untuk bisa memajukan kehidupannya. Dan guru adalah salah satu pemegang kuci tersebut. Pada dasarnya, aku juga setuju kalo guru mendapatkan tempat yang lebih baik dibandingkan dengan PNS yang lain.

Jadi guru itu susah..musti ngajarin anak orang..ngurusin anak orang..capek, kesel..belum kalo murid-muridnya pada bandel. Dibiarin, ngeselin. Mau dijitak, kok anak orang, bisa-bisa tar malah jadi kasus..Islam juga menyuruh kita untuk menghormati, menghargai, dan mendoakan guru-guru kita. Betapa guru adalah profesi yang mulia.

Namun, kukira ini bukanlah alasan bagi para guru untuk kemudian berlebih-lebihan dalam memandang profesi mereka. Setiap sesuatu mempunyai proporsinya masing-masing sesuai beban dan tanggung jawabnya. Akan lebih baik bagi kita untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Aku sependapat dengan Pak JK. Memang, kesejahteraan guru belum mencapai proporsi idealnya (terutama guru-guru honorer, apalagi yang di luar-luar jawa sono noh, masih jauh mas..). Namun, terlalu hiperbolis rasanya kalau sampai dikatakan, "guru di Indonesia mengajar sambil menahan lapar". Ya, fasilitas pendidikan kita, sekolah-sekolah, masih jauh dari mencukupi dan kualitasnya pun masih melata, belum merata. Namun pantaskah seorang profesor seperti beliau menganggap sekolah-sekolah kita seperti kandang ayam? Sebagai seorang yang terpelajar, tidakkah beliau mengetahui sejarah bangsa ini? Bagaimana komitmen pemerintah pada masa lalu terhadap dunia pendidikan, dan perbandingannya dengan pemerintahan yang sekarang? Walaupun masih jauh dari harapan, namun bukankah pemerintah sudah mulai menuju ke arah perbaikan? 

Di Indonesia, PNS yang kesejahteraannya belum ideal masih banyak. Ambil contoh TNI. Jadi tentara juga berat lho. Jam kerjanya sewaktu-waktu. Mo mukul musuh yang membahayakan negara aja musti mikir, enggak asal main hantam kromo aja. Salah-salah dituduh melanggar HAM ntar..tapi kalo kelamaan mikir juga keburu mampus…Resiko pulang tingal nama cing! Padahal gaji mereka juga cuma segitu-segitu aja, ga sebanding dengan resiko yang musti dihadapi. Fasilitasnya juga masih memprihatinkan (asrama, persenjataan,dsb). Sudah rahasia umum, kaya gitu aja masuknya pake bayar.Wah…

Contoh lainnya, umm, pegawai BPS (Biro Pusat Statistik). Tugasnya juga berat lho. Musti pinter matematika, trus nyari-nyari data. Coba bayangkan gimana susahnya nyari data di pelosok-pelosok Indonesia, kalo nyari data di jawa aja susahnya minta ampun. Contoh kongkretnya pas ada huru-hara Bantuan Langsung Tunai kemaren. Kan rusuh tuh. Sebagian besar pegawai dan kantor BPS di seluruh Indonesia menjadi sasaran amuk massa. Padahal gajinya juga kecil (aku lupa besarannya, yang jelas prihatin deh).

Aku sendiri calon anggota DepKeu. Orang-orang mempunyai asumsi kalau gaji kami besar. Maklum, lha wong yang ngurusi keuangan je!! Tapi, nyatanya, sebenerna ga beda jauh dengan PNS yang lain. Gaji kami kelihatan agak berbeda karena tunjangan kami memang lebih baik daripada PNS yang lain, yaitu sebesar satu kali gaji. Kenapa aku menganggap kecil? Gaji sebesar itu, dibandingkan dengan tugas dan resiko yang kami hadapi terasa tidak seimbang. Bayangkan saja, kami harus mencari, mengamankan, dan mendistribusikan penerimaan Negara. Godaannya sangat banyak. Kebanyakan dari kami berada di wilayah abu-abu. Image kami juga nggak karuan. Sedikit kelalaian, resikonya sangat besar. Sepertinya nggak perlu dijelaskan orang-orang juga sudah pada tahu. Sama-sama berat dan sensitif, kalau dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang bekerja di sektor kebijakan moneter, akan jelas terlihat kalau gaji kami (kebijakan fiskal) juga masih belum ideal, sama seperti PNS yang lain. Masih mending kalo kami ditempatkan di kota. Sebagai pegawai pusat, wilayah kerja kami adalah seluruh Indonesia. Kalo pas dapet penempatan di pelosok, kami juga sama susahnya seperti yang lain. Tapi apapun juga, kami akui bahwa walaupun gaji kami belum mencapai standar yang diharapkan, gaji kami masih lebih baik dari rata-rata PNS yang lain. Alhamdulillah…

Sebaiknya saat ini guru juga belajar untuk menghormati orang lain. Sekarang ini jaman susah, negara lagi susah, semua orang juga susah. Janganlah berlebih-lebihan. Letakkanlah segala sesuatu pada tempatnya. Semuanya ingin diperhatikan. Semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kembalikanlah niat kita hanya kepada Allah. Kita mempunyai kewajiban untuk membangun tanah ini, agar ummat sejahtera, agar Islam jaya, menebarkan rahmat dan kasih sayang ke semesta. Hal itu tidak akan tercapai tanpa adanya saling pengertian dan saling memahami, terutama dalam intern ummat itu sendiri. Trusteeship.

Buat temen-temen guru, calon guru, maupun anak-anak guru yang baca tulisan ini, maaf ya kalo ada salah kata. Bukan maksudku untuk merendahkan profesi guru, namun semua ini justru karena aku tidak ingin martabat dan harga diri guru jatuh. Aku takut kalau suatu saat nanti guru tidak lagi dihormati dan dianggap oleh masyarakat. Betapa kasihan bangsa ini kalau hal itu sampai terjadi. Aku ingin dunia pendidikan kita lebih baik.

Semoga aku selalu bisa mengingat kata-kata ini:

“AJA KAGETAN, AJA GUMUNAN, AJA DUMEH”

Islamic Never Die!!!