foto heboh

June 22nd, 2006 by openwide

Ternyata foto kemaren banyak menimbulkan tanda tanya buat temen2, hehe….orang ama sodara sendiri ko…mirip gitu, ga liat pa, hehe…hapus aja dulu deh, wkk…….

Senja Merah

February 13th, 2006 by openwide

Merahnya langit barat seringkali menimbulkan perasaan aneh di hati ini. Membawa ingatan berloncatan ke tanah lapang, balkon, jalanan dan tempat-tempat tanpa nama yang hanya sekelebat saja melintas. Jakarta, Jogja, desa. Senja jakarta memang mempunyai nuansa tersendiri -walaupun beberapa alasan manusiawi membuat tidak semua manusia sempat menikmatinya- karena kita harus menangkapnya cepat-cepat sebelum dia ditelan lampu penerangan yang beribu banyaknya, yang menyinari debu-debu jalanan yang pelan berkejaran menuju pertiwi. Menyapa manusia-manusia yang tak jua berhenti mencari hidupnya. Sedangkan di desa, merahnya langit adalah pertanda bagi anak-anak untuk berlarian ke langgar, berkumpul dengan kakak-kakaknya dan menguji kekhusyuan ibadah orang-orang tua mereka dengan canda celotehnya. Sementara bagi yang sudah dewasa, bagaimanapun hari yang dilalui, senja merupakan isyarat untuk mengistirahatkan tulang-tulangnya dan berterimakasih pada Sang Pemberi Rezeki karena masih diperbolehkan menatap birunya langit seharian tadi.

Maka malam pun datang.

"Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Di mana pun juga dia menampakkan dirinya. Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit."
                                                    "Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer"

Ah, jingga. lembayung. merah..

       

Behold!! The Nightmare!!

January 6th, 2006 by openwide

Behold!! The Nightmare!!

Hari-hari belakangan ini sepertinya adalah mimpi buruk bagi kita semua. Bencana dimana-mana. Tanah longsor, banjir, ah, entah apalagi besok……

aku jadi ingat kisah-kisah di majalah Si Kuncung (majalah yang kurindukan, entah bagaimana nasibmu kini) dulu. Cerita-cerita tentang bencana banjir seringkali bersetting sebuah perkampungan dimana angin sepoi berhembus, dikitari persawahan yang terhampar indah.  Ya, di tahun-tahun yang lalu, banjir kebanyakan menimpa teman-teman kita yang berada di wilayah bawah. Banjir Kiriman kalo kata orang. Namun sekarang, wilayah atas pun sepertinya mulai terjamah. Seperti yang dialami teman-teman kita di Jember kemarin. Sekarang, banjir ternyata terjadi juga di daerah pegunungan, daerah yang semula tidak terbayangkan oleh kita akan mengalami bencana semacam itu.
Demikian juga tanah longsor (LS). Dulu, LS biasanya terjadi di daerah-daerah tertentu saja, yang memang sudah jadi "langganan" LS. Entah karena struktur tanah yang labil, atau karena sebab lainnya. Namun, kita lihat sekarang LS terjadi secara sporadis di berbagai tempat.

Segera, muncul dua pendapat tentang penyebab bencana ini. Masyarakat menilai penggundulan hutan sebagai biang keroknya, sedangkan birokrat menyatakan curah hujan yang sangat tinggi sebagai penyebabnya.
aku cenderung kurang setuju dengan alasan kedua. Kenapa? Karena alasan itu mempunyai dua arti, yaitu :
1. Tidak mengakui bahwa hutan yang ada saat ini sudah jauh berkurang dibanding  tahun-tahun lalu.
   Kurasa sudah bukan rahasia lagi kalau merajalelanya pembalakan liar di Indonesia terjadi karena dukungan oknum-oknum tertentu. Ada kesan untuk menutupi keterlibatan mereka? Entahlah. Semoga saja tidak…
2. Cenderung menyalahkan alam.
   Hujan adalah rahmat dari Allah untuk kita. Seandainya dia berubah menjadi bencana, rasanya tidak baik jika kita serta merta mencacinya. Marilah menoleh kepada diri kita masing-masing. aku yakin, sebenarnya kita semua tahu jawabannya, iya kan :)….?

Tak terbayangkan olehku (dan aku memang tidak mau membayangkannya) seandainya hal serupa menimpa wilayah kami. Semoga para korban diberi ketabahan dan kekuatan. Dan semoga hal ini bisa menjadi pelajaran bagi semua.

Maka, bersyukurlah kita yang saat ini masih bisa datang ke warnet, browsing, mungkin chatting, menatap monitor dengan tenang dan rileks, bahkan mungkin ada yang sambil ongkang-ongkang kaki plus ngopi sambil ketawa-ketawa sendiri. Bersyukurlah, bersyukurlah……

Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah.

== Love Our Forest ==

 

Tulisan Aneh

January 4th, 2006 by openwide

Sebenerna aku ga enak mo nulis ini, tapi rasanya kok tergelitik pengen nulis komentar. Ya sudahlah, tulis aja…mawut yo luweh, sing penting hepi beibeh…..

Kemaren baca messagenya Rin, temen SMU dulu. Ngomentarin temen kita yg barusan nikah, kenapa yg nikah banyakan cewek mulu. Salah satunya, ada kata "kalo perempuan kan ga wajib kerja". Pas dibaca si masi oke2 aja. Tapi, pas nyampe rumah inget lagi kata itu. "Perempuan kan ga wajib kerja…."
Bener, idealnya si emang gitu. Ga wajib. Cuma kalo dipikir2 lagi, kayanya jadi bingung juga. Gimana ya, jaman sekarang, mau ga mau biaya hidup harus diperhitungkan…Kayanya kalo rumah tangga cuma mengandalkan 1 orang thok kok rasanya rapuh bgt (iya nggak si?). Masih oke kalo blom repot. Mau prihatin model flintstone pun oke! Tapi, kalo dah ada tanggungan, maka dimulailah masa2 kritis itu. "All hands on deck!!" Nutrisi buat manusia kecil kan mahal. Boro2 yg mengandung sgala macam enzim tetek-bengek yg (katanya) bisa bikin pinter, cepet gedhe, cepet tinggi (sayang ga ada yg bikin cepet kaya, apalagi cepet sholeh), dsb. Yg biasa2 aja udah susah dijangkau kok. Belum tar kalo si anak dah mulai sekolah. Tau ndiri, di negeri ini pendidikan mahal…dll-dll…

Di sisi lain, kalau yang kerja 2 orang, si bocah jadi terlantar. Bisa2 malah kurang dpt perhatian. Padahal kalo kata Kak Seto, Bu Tika Bisono, Pak Darmanto Djatman dkk (sori, untuk urusan ini dr. Boyke ga ikut2an, hehe..), peran orang tua (terutama ibu donk!!) sangat penting buat perkembangan si anak. Akibatnya, perkembangan mentalnya bisa jadi kurang bagus..

Piye jal? Ketoke mumet yo?

Yah, namanya aja masih membayangkan. Wong nikah aj blom pernah kok, blom mengalami ndiri. Tapi, kalo kata Eyang Kakung, jng sampe alasan2 itu bikin orang jadi takut nikah. Yakin aja lah kalo nikah itu bisa jadi pintu rejeki. Namanya aja pintu, pasti ada kuncinya kan?. Eyang kakung bilang, Kearifan dan pengertian dari kedua pihak kayanya adalah kunci yang paling pas…Satu lagi, biasanya pintu akan susah dibuka kalo dipaksa dan tergesa-gesa. So, just enjoy, and do it smoothly. Smooth Operator beibeh… 

Woihoihoi, nulis apa si ini. Udah2 brenti omong kosongnya! Sekali lagi, namanya juga bayangan, tul ga, hehe….   

Lithium

December 16th, 2005 by openwide

Untuk yang pertama kali selama 3 bulan terakhir, aku benar-benar nggak tau mo ngapain. Apa sebabnya? Tau!!!!!!!!

Dear Lithium, please come with me!!!

TragediMalamMinggu

December 4th, 2005 by openwide

Malem minggu kelabu nee….ga bisa kemana-mana, Bosnya ga ngebolehin..Daripada tar ga dikasi subsidi (hehe…), akhirnya untuk kali ini terpaksalah poin "kegiatan kepemudaan sabtu malam" menghilang dari agenda, kekeke..

Bingung mo ngapain. Bengong aj ngeliatin monitor. Tau-tau kedengeran deh laguna oom Robert Smith and friends, "a letter to Elise". Wah, bener juga tu, daripada iseng, mendingan nulis-nulis aja deh. Nulis apaan kek! Kalo tulisan ini tar jadi surat cinta, ya bolehlah, itung-itung buat persediaan kalo2 suatu saat diperlukan, hehe…kalo tar jadi cerpen atau novel (huahahahaha, eling dab!), ya syukur, berarti aku berbakat (matamu mas!). Kalaupun jadinya malah kayak tulisan orang gila, juga ga papa. Yang penting masi ada yang mau baca. Tulisannya orang gila kan cuma bisa dipahami sesama orang gila?! Siapa suruh baca tulisannya orang gila, hehe…

Langkah pertama, mencoba mencari inspirasi

Kluthik-kluthik-kluthik….

Gagal

Langkah Kedua, merenung

Tuk-tuk-tuk-tuk….

Gagal lagi

Usaha ketiga, ganti posisi (ih, emang apaan?!)

Krik-krik-krik….

Wadaww!!! Busyet dah! Ternyata nulis tu susah ya! Ga ada ide cemerlang nemplok di kepala! Jangankan ide cemerlang, yang nggak masuk akal pun pada melengos, ga mau mampir! Wah ruwet ne kalo kaya gini caranya..Udah deh, moga2 besok bisa disambung lagi, kali aja bisa bikin cerita yang lebih seru. Buat penutup, eh tunggu dulu! Kayaknya ada seemprit ide ni..tapi berhubung Chievo vs Milan dah mo main, tulis seadanya aja lah..

Tadi siang aku ketemu temen lama, Tuan Komple namanya. Omong punya omong, tau-tau dia bilang kalo anak2 muda sekarang pacarannya dah mulai gila-gilaan, kalo istilah jawanya sampun gawat kaliwat-liwat! Ga usah jauh2 sampe Jogja segala, di Pwr aj udah nggak karuan. Jaman sekarang kalo mo nyari kriteria istri, lanjut beliau, jangan terlalu berharap dapet perawan! Apa iya kaya gitu? Ada yang mo ngasi tanggapan? Dari kaum hawa terutama, yang selalu berhasil kami kibuli (entah itu secara terpaksa, tidak sengaja, sukarela ataupun suka sama suka!) dan menjadi korban kami, para buaya, hehe…

Oke, cabut dulu ah! Buat penutup, dengerin Weezer dulu…

"No One Else" by Weezer

i want a girl who will laughs for no one else

When i’m away she puts her make up on the shelf

When i’m away she never leaves the house

i want a girl who’ll laughs for no one else…Yeah!!

# dan ternyata malam itu betul-betul menjadi malam kelabu karena 2 jam kemudian Milan kalah, 2-1.

Mengapa begini, mengapa begitu?

December 1st, 2005 by openwide

Ketika membuka koran pagi ini, aku tertarik dengan sebuah berita tentang jalannya pemilihan umum di Mesir. Hosni Mubarak melarang para pemilih dari kalangan IM untuk mendatangi tempat pemilihan dan memberikan suaranya, dan hal ini menimbulkan bentrokan massal yang merenggut korban jiwa.

Ah, kasihan betul nasib umat ini. Nggak di Indonesia, nggak dimana-mana, selalu saja menjadi alat politik dan terpecah belah nggak karuan. Mungkin terlalu jauh bagi kita untuk menanggapi apa yang terjadi di Mesir sono (adoh dab, hehe..!!), Emmh. coba kita lihat di negeri sendiri aja deh. Sepenglihatanku, terutama sejak masa reformasi, para kiai kita lebih sibuk berpolitik daripada memberikan pendidikan kepada ummat. Padahal, dengan semakin derasnya arus informasi, para kiai justru semakin dibutuhkan perannya dalam menanamkan dasar-dasar agama untuk membentengi umat ini. Aqidah, ibadah, dan akhlak adalah hal yang amat penting, dan bukan amat kecil, namun amat uurrrghenn..(hehe, Pak Habiebie bgt ya :p). Namun, sebagian besar Kiai malah menyibukkan diri kedalam dunia politik dengan alasan untuk kemaslahatan umat. Okelah, bagaimanapun juga kita memang tidak bisa mengesampingkan urusan politik begitu saja. Maka bermunculanlah partai-partai Islam, dengan beragam benderanya. Diharapkan terjunnya para kiai di dunia politik tersebut dapat memberikan teladan dan pendidikan bagi ummat, bagaimana berpolitik secara benar dan Islami.

Tetapi apa lacur? Yang terlihat sekarang adalah sebuah keanehan, carut-marut, perpecahan yang bagiku nggak jelas mana ujung pangkalnya. Jangankan untuk menyatukan pendapat beberapa partai Islam, lha wong dalam satu partai Islam saja bisa pecah dan malah gontok-gontokan terus kok! Hati ini kadang sampe gemez rasanya ngeliat kondisi kaya gitu. Lucu buanget pokoke lah!! Ga heran kalo kalangan non muslim seringkali menganggap remeh dan mentertawakan kita, lha wong kita ini juga pinter ndagel kok!!

Maka timbul suatu pertanyaan, "sebenarnya apa sih yang bikin kita ga bisa bersatu? Kenapa kita ga bisa?". Umm, kayakna untuk menyatukan partai-partai itu menjadi satu saja memang agak susah, karena memang sudah fitrah manusia untuk mempunyai pendapat yang berbeda. Namun apakah tidak bisa bagi kita untuk paling tidak menyatukan langkah, menyikapi suatu permasalahan dengan melihatnya dari Islam sebagai kacamata utama? Kompak gitu loh!! Apa gunanya para Kiai disitu? Kemana perginya semangat Ukhuwah Islamiyah yang selalu didengung-dengungkan itu, ikut anggota dewan piknik ke Mesir po?! Silaturahmi yang dilakukan kurasakan lebih diselimuti semangat politis daripada semangat ukhuwah Islamiyah (heihei, ga baik tu su’udzan..Astaghfirullah). Lebih jauh lagi, dengan melihat realita saat ini, perlu ditanyakan lagi kepada partai-partai yang mengaku Islam tadi, sebenarnya apa sih tujuan utama mereka? Mungkin permasalahannya tidaklah sesederhana yang dibayangkan, namun inilah yang dilihat oleh kaum arus bawah seperti kami. Para Kiai (Ulama) harus sadar, bahwa mereka adalah pewaris para Nabi (aku sangat yakin bahwa mereka jauh jauh jauh lebih tau daripada cecunguk busuk berpikiran dangkal ini). Kepada merekalah umat ini bergantung. Kalau para ulamanya tidak lagi bisa diandalkan, maka kepada siapa lagi umat ini akan menggantungkan harapan?

Kangen…

December 1st, 2005 by openwide

Wah, ga terasa dah 2 bulan di rumah. Belom kemana-mana neeh, payoyeah tenan!! Begini nasib jadi bujangan, kemana-mana, asalkan suka, tak ada orang yg melarang, asalkan punya uang!! Kalo ga punya uang, ya gini dah, cuma bisa menggondrongkan diri di rumah sajo, hohoho…

Hemh, kangen ma jakarta nee..kupikir-pikir, aneh juga ya. Padahal kalo udah di jakarta, malesnya minta ampun. Kerjaannya molor mulu. Mo keluar males. Macetlah, panaslah, pokoknya hati besarku selalu bisa bikin beribu propaganda yg membuat hati kecilku takluk, untuk kemudian mengrimkan sebuah sms berbunyi "tidur!" kepada yang terhormat saudara otak kecil. Walhasil, kasurku jadi kasur paling tipis sekos (tentu saja kasurnya den mas Gendhout ga diitung, dia kan abnormal,hehe..sori nDut!). Emang si, kadang-kadang hati kecilku tampil lebih perkasa dan berhasil menggerakkan tubuh ini menuju dunia luar sana. Itupun dengan konsekuensi terjadinya badmood swing kalo pas kena macet (iyalah, kalo ga macet bukan djakarta tapi purworejo namanya!). Ngeselin tau!! Sampe pernah aku membuat sebuah semboyan berbunyi "i hate jakarta!viva neng ndeso is better!". Heran, betah amat pada ya orang2 hidup di jakarta?

Tapi itu dulluu..Sekarang kena batunya deh. kalo pas giliran dah di rumah, kok rasanya kangen ma djakarta ya..kangen ma mataharinya, ma hujannya, kangen ma kampus biruku (huahaha, cekakak-cekakak, bo’ong banget tu :p!!), kangen ma anak2 kos (sayang skarang dah pada piknik keliling Indonesia), kangen naek bis kota, metromini, kopaja (palagi kalo pas dapet bareng mbak2 kantoran,kan asik, wakaka…), kangen ngeliat Blok M, liat monaZ, ngedengerin BenZ radio (kekeke..), maen ke Gramed (ih kasian bgt ya..), satu lagi, kangen ke jl.Sabang (dah setaon kali ga kesono), kangen kena macet, pokoknya benci tapi rindu gitu deh! Kalo kata orang pacaran si, yg kaya gitu tu namanya emang cinta beneran (iya emang? maklum blom pernah, mangkana ga tau, hehe..).

Apa iya ya aku dah kena jerat-jerat cinta jakarta?

Tau ah, yg jelas, i miss You Djakarta!!

Nggak Karuan

November 29th, 2005 by openwide

Dalam beberapa hari terakhir ini,ada satu peristiwa yang membuat aku tertarik, yaitu hari guru. Kenapa? Aksi-aksi para guru sekarang ini sangat "luar biasa". Betapa tidak? Dalam upacara peringatan hari guru (Manahan,Solo,26/11/05) yang dihadiri oleh Wakil Presiden dan juga perwakilan para guru se-ASEAN, mereka melakukan aksi demonstrasi di dalam stadion! Mereka (dalam hal ini diwakili oleh Prof. Winarno) juga "menyindir" pemerintah yang belum mampu mengakomodasi kepentingan dunia pendidikan melalui sebuah puisi yang cukup pedas, yang ujung-ujungnya kemudian membuat Jusuf Kalla tersinggung. Yang menarik adalah, kenapa si mereka melakukan itu? Sebuah ejekan dan aksi demonstrasi frontal dipertontonkan di hadapan Wakil Presiden yang saat itu sedang bersama perwakilan para guru se-ASEAN (yang notabene adalah tamu negara juga). Bukankah itu namanya mempermalukan Indonesia, sekaligus mempermalukan diri sendiri? Apakah sudah tidak ada lagi jalan lain? Tidak bisakah aspirasi tersebut disampaikan dengan cara yang lebih santun dan terhormat? Bagaimana kalau murid-murid sekolah dasar menanyakan kepada gurunya tentang hal ini? Pendidikan bukan semata-mata dilakukan melalui tatap muka di kelas, namun juga melalui teladan dan contoh di lapangan. Sesuai dengan agama yang kuanut, aku lebih percaya bahwa hati seorang pemimpin akan lebih mudah tergerak apabila menerima nasehat yang disampaikan dengan cara yang baik dan santun. Bukan dengan emosi semata…Para guru meminta agar kesejahteraan guru diperhatikan dan ditingkatkan. Ya, dalam hal ini aku setuju dengan mereka. Kebijakan pemerintah pada masa lalu yang tidak berpihak kepada dunia pendidikan membuat fasilitas dan nasib guru terabaikan. Padahal pendidikan adalah kunci penting bagi suatu bangsa untuk bisa memajukan kehidupannya. Dan guru adalah salah satu pemegang kuci tersebut. Pada dasarnya, aku juga setuju kalo guru mendapatkan tempat yang lebih baik dibandingkan dengan PNS yang lain.

Jadi guru itu susah..musti ngajarin anak orang..ngurusin anak orang..capek, kesel..belum kalo murid-muridnya pada bandel. Dibiarin, ngeselin. Mau dijitak, kok anak orang, bisa-bisa tar malah jadi kasus..Islam juga menyuruh kita untuk menghormati, menghargai, dan mendoakan guru-guru kita. Betapa guru adalah profesi yang mulia.

Namun, kukira ini bukanlah alasan bagi para guru untuk kemudian berlebih-lebihan dalam memandang profesi mereka. Setiap sesuatu mempunyai proporsinya masing-masing sesuai beban dan tanggung jawabnya. Akan lebih baik bagi kita untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Aku sependapat dengan Pak JK. Memang, kesejahteraan guru belum mencapai proporsi idealnya (terutama guru-guru honorer, apalagi yang di luar-luar jawa sono noh, masih jauh mas..). Namun, terlalu hiperbolis rasanya kalau sampai dikatakan, "guru di Indonesia mengajar sambil menahan lapar". Ya, fasilitas pendidikan kita, sekolah-sekolah, masih jauh dari mencukupi dan kualitasnya pun masih melata, belum merata. Namun pantaskah seorang profesor seperti beliau menganggap sekolah-sekolah kita seperti kandang ayam? Sebagai seorang yang terpelajar, tidakkah beliau mengetahui sejarah bangsa ini? Bagaimana komitmen pemerintah pada masa lalu terhadap dunia pendidikan, dan perbandingannya dengan pemerintahan yang sekarang? Walaupun masih jauh dari harapan, namun bukankah pemerintah sudah mulai menuju ke arah perbaikan? 

Di Indonesia, PNS yang kesejahteraannya belum ideal masih banyak. Ambil contoh TNI. Jadi tentara juga berat lho. Jam kerjanya sewaktu-waktu. Mo mukul musuh yang membahayakan negara aja musti mikir, enggak asal main hantam kromo aja. Salah-salah dituduh melanggar HAM ntar..tapi kalo kelamaan mikir juga keburu mampus…Resiko pulang tingal nama cing! Padahal gaji mereka juga cuma segitu-segitu aja, ga sebanding dengan resiko yang musti dihadapi. Fasilitasnya juga masih memprihatinkan (asrama, persenjataan,dsb). Sudah rahasia umum, kaya gitu aja masuknya pake bayar.Wah…

Contoh lainnya, umm, pegawai BPS (Biro Pusat Statistik). Tugasnya juga berat lho. Musti pinter matematika, trus nyari-nyari data. Coba bayangkan gimana susahnya nyari data di pelosok-pelosok Indonesia, kalo nyari data di jawa aja susahnya minta ampun. Contoh kongkretnya pas ada huru-hara Bantuan Langsung Tunai kemaren. Kan rusuh tuh. Sebagian besar pegawai dan kantor BPS di seluruh Indonesia menjadi sasaran amuk massa. Padahal gajinya juga kecil (aku lupa besarannya, yang jelas prihatin deh).

Aku sendiri calon anggota DepKeu. Orang-orang mempunyai asumsi kalau gaji kami besar. Maklum, lha wong yang ngurusi keuangan je!! Tapi, nyatanya, sebenerna ga beda jauh dengan PNS yang lain. Gaji kami kelihatan agak berbeda karena tunjangan kami memang lebih baik daripada PNS yang lain, yaitu sebesar satu kali gaji. Kenapa aku menganggap kecil? Gaji sebesar itu, dibandingkan dengan tugas dan resiko yang kami hadapi terasa tidak seimbang. Bayangkan saja, kami harus mencari, mengamankan, dan mendistribusikan penerimaan Negara. Godaannya sangat banyak. Kebanyakan dari kami berada di wilayah abu-abu. Image kami juga nggak karuan. Sedikit kelalaian, resikonya sangat besar. Sepertinya nggak perlu dijelaskan orang-orang juga sudah pada tahu. Sama-sama berat dan sensitif, kalau dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang bekerja di sektor kebijakan moneter, akan jelas terlihat kalau gaji kami (kebijakan fiskal) juga masih belum ideal, sama seperti PNS yang lain. Masih mending kalo kami ditempatkan di kota. Sebagai pegawai pusat, wilayah kerja kami adalah seluruh Indonesia. Kalo pas dapet penempatan di pelosok, kami juga sama susahnya seperti yang lain. Tapi apapun juga, kami akui bahwa walaupun gaji kami belum mencapai standar yang diharapkan, gaji kami masih lebih baik dari rata-rata PNS yang lain. Alhamdulillah…

Sebaiknya saat ini guru juga belajar untuk menghormati orang lain. Sekarang ini jaman susah, negara lagi susah, semua orang juga susah. Janganlah berlebih-lebihan. Letakkanlah segala sesuatu pada tempatnya. Semuanya ingin diperhatikan. Semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kembalikanlah niat kita hanya kepada Allah. Kita mempunyai kewajiban untuk membangun tanah ini, agar ummat sejahtera, agar Islam jaya, menebarkan rahmat dan kasih sayang ke semesta. Hal itu tidak akan tercapai tanpa adanya saling pengertian dan saling memahami, terutama dalam intern ummat itu sendiri. Trusteeship.

Buat temen-temen guru, calon guru, maupun anak-anak guru yang baca tulisan ini, maaf ya kalo ada salah kata. Bukan maksudku untuk merendahkan profesi guru, namun semua ini justru karena aku tidak ingin martabat dan harga diri guru jatuh. Aku takut kalau suatu saat nanti guru tidak lagi dihormati dan dianggap oleh masyarakat. Betapa kasihan bangsa ini kalau hal itu sampai terjadi. Aku ingin dunia pendidikan kita lebih baik.

Semoga aku selalu bisa mengingat kata-kata ini:

“AJA KAGETAN, AJA GUMUNAN, AJA DUMEH”

Islamic Never Die!!!

Alhamdulillah

August 2nd, 2005 by openwide

Kompre telah tiba!! dng semangat kuayunkan langkah menuju kampus, kutunggu giliran bersama teman2, dan kumasuki ruang ujian dng tenang. Ternyata…..sensasi kompre memang dahsyat kawan. Kepercayaan diri yang kubangun dng susah payah lewat SKS-ku hancur berantakan dalam sekejap. Ah….. … .. .  singkat cerita, jadilah aku  bulan2an bapak BS, Drs. AR, dan Drs. DG. Jab,hook,jet,straight,upper cut,komplit plus pasak bumi, ginseng dan royal jelly telak mendarat di otakku. Pokoknya 90 hit, 100% damage lah!!
Akhirnya, tibalah saat yang dinanti. Dan ketika Drs. AR menyebuat namaku, dng nilai xx (aje gile, nilainya minimalis bgt jack!!), dinyatakan lulus!! Stlah 3 tahun, akhirnya, ah… sungguh suatu perasaan yg ga bs diungkapkan.  Alhamdulillah, segala puji bagimu ya Allah, walaupun aku bukanlah hambaMu yg taat, Engkau tetap mendengar pintaku….

Thanks to:
1. Ayah, Ibu, dan Adik tercinta atas kasih sayang dan smua yg telah diberikan kepadaku. i love u all…
2. Keluarga besar Hadisoedarmo dan Moeljosoedarjo
3. Kesabaran
4. Sahabat, teman, dan semua pihak yang telah memberikan dukungannya……….thx 4 all…..

Alhamdulillah